PUTIH ABU-ABU WARNA HAFALANKU

Hatiku tak sejernih mata air, tak sebening embun dipagi hari, tak seputih kapas yang bertaburan di angkasa dan tak sekuat baja juga tak sesuci telaga syurga itu kenapa mata hatiku mudah silau akan indah kilaunya cinta mencinta.

Fya Augustine Itsnaini saat di pesantren juga tidak luput oleh ujian dan cobaan. Termasuk ujian dalam menghadapi hal asmara. Terbukti saat aku baru dapat juz ‘Amma, sejarah cintapun tlah dimulai.

Dia, adalah salah satu santri abangku, orangnya tekun dalam segala hal, rajin dalam sikon apapun, punya raut muka menawan, senyum sapanya yang selalu ditebar ketika bersapa dengan siapapun, rendah diri, punya postur tubuh yang tinggi ( ma’lum mantan TNI ), tapi sayang usianya terpaut sangat jauh denganku yang waktu itu aku masih sangatlah belia. Orang kota bilang “masih bau kencur”. 13tahun, itulah usiaku saat itu sedangkan dia berumur 37tahun. Ooh my Allah, help me please! 🙂

Singkat cerita, aku yang kala itu tidak tahu apa itu cinta, apa itu mencinta dan apa itu dicintai. Itulah kenapa saat dia mengungkapkan segala isi hatinya, justru aku meresponnya dengan canda tawa karena bagiku ,dia ku anggap hanya sebatas sebagai kakak sendiri. Tidak lebih dari itu. Dan mungkin benih cinta dihatinya tumbuh dikarenakan seringnya aku dan dia bertemu. Ngendhikanipun wong jowo :”Wiwiting Trisno Jalaran Songko Kulino”

Namun, cinta telah membutakan mata hatinya. Dia memilih menempuh jalan berdosa demi untuk mendapatkan yang ia inginkan. Aku dibuatnya stress selama 10hari. Siang dan malam, siang hari maupun sore hari bayangan wajahnya lekat dipelupuk mata. Jangankan mengingat Allah, mengingat siapa diriku saja tak mampu, boro-boro membaca Al-Qur’an, membaca basmalah saja tak kuasa. Lidah dan pikiranku dikuasai oleh namanya.

Lisanku begitu fashih nan tartil melafadzkan namanya, pikiranku sangatlah hafal mengeja namanya. Makan tak enak, tidurpun tak nyenyak. Hafalan juz ‘Ammaku hilang seperti diterpa angin topan. Akan tetapi Allah tidak pernah tidur dan tidak akan membiarkan hambaNya tersiksa bathinnya. Dengan idzinNya, setelah dengan berbagai ikhtiar, semua berlalu dengan indah dan sejak saat itu, rutinitasku kembali normal seperti sedia kala. Kata Raden Ajeng Kartini : Habis Gelap Terbitlah Terang.

Setelah khatam juz ‘Amma, oleh bu nyai aku diutus melanjutkan hafalan juz awwal, yaitu juz 1. Baru dapat setoran 1/4juz, cinta datang kembali menggoda imanku hingga sampai juz 12. Namun kali ini adalah cinta pertama bagiku.

Z.M, itulah inisial namanya. Aku dan dia dipertemukan ketika diacara pemilihan ketua osis. Dia yang waktu itu berstatus sebagai kakak kelasku. Aku dan dia sama-sama menjadi kandidatnya meski akhirnya aku yang menjadi ‘winner’nya dan dia menjadi wakil ketua osis. Kita menjadi sering bertemu diruang rapat. Ketika bertemu dia yang sering membuka pembicaraan. Akhirnyapun dengan beriringnya waktu aku dan dia akrab. Dan, nada-nada cintapun mulai mengalun indah bak irama padang pasir, akan tetapi antara aku dan dia masih sama-sama menafikan akan perasaan itu.

Setiap kali bertatap muka dengannya, aku tertunduk malu, jantung berdetak kencang dan hati berdesir-desir. Yah, aku telah fall in love. Aku telah jatuh cinta, cinta pada pandangan pertama. Senyumnya yang manis membuatku lupa akan pahitnya kesedihan, wajahnya yang calm and exotice mampu menyejukkan sanubari yang kering kegersangan dan kelembutan sikapnya menghipnotisku, seakan Allah menurunkan nabi Yusuf untukku. So amazing.

Pada suatu kesempatan, pada saat setelah rapat, dia memanggilku. Dia bertanya padaku bagaimana hafalanku, bagaimana ngaji kitabku, lancar atau tidak. Akupun menjawab bahwa semuanya lancar dengan idzinnya Allah. Diapun tersenyum simpul mendengar jawabanku sembari ucapkan kata syukur. Aku jadi ‘salting’ dibuatnya karena dia mulai basa-basi.

Hari Jum’at tepat tanggal 15 bulan Agustus, aku dan dia resmi menjadi ‘KITA’. Kita sudah tak mampu menahan gejolak asmara yang meledak-ledak dihati. Cinta yang kian tumbuh dan bersemi seperti dimusim semi, membuat kita tak kuasa lagi memendamnya.

Akhirnya kita memutuskan untuk pacaran dan ternyata jatuh cinta itu sungguh sangat indah. Kata eyang Titik Puspa : Jatuh Cinta Berjuta rasanya. Dan kata pujangga Inggris : Love is a sweet torment. Yach begitulah yang ku rasakan saat itu.

Namun, cintaku bukanlah cinta buta, tidak seperti kata orang inggris bahwa Love is Blind. Cintaku padanya tidak membuatku lalai, tidak membuatku lupa akan kewajibanku dalam menghafalkan Al-Qur’an. Tidak pernah mengurangi kekonsentrasianku menghafalkan ayat-ayat cintaNya juga nilai pelajaranku juga masih normal seperti sebelum pacaran dengan dia. Justru ketika kita bertemu, dia sering menanyakan bagaimana hafalan dan sekolahku, dan sesekali dia juga nyimak hafalan Al-Qur’anku bahkan kita punya komitmen untuk jangan sering bertemu karena kita sama-sama mempunyai kewajiban yang sangat besar, terlepas dari kewajiban menghafalkan, kita mempunyai kewajiban menjaga nama baik keluarga. Dan menurutku ide yang sangat bagus. Ternyata dia type cowo yang sangat bertanggung jawab. Ah, aku makin jatuh hati padanya. Terkesima aku dibuatnya.

Mendung hitam mencekam dilangit cakrawala, petir menyambar-nyambar seluruh seisi jagad raya, gemuruh ombak mengamuk pada bebatuan dan menghancurkannya menjadi debu. Itulah ibarat tatkala aku mendengar kalau dia ‘terpejam’ untuk selamanya. Dia meninggal karena kecelakaan sepulang dari masjid. Aku menjerit histeris,tangisku pecah, air mata mengucur deras dan tanganku tak henti-hentinya memukul kepala serta membuang segala sesuatu yang ada dihadapanku. Dunia seakan menguburku hidup-hidup karena perpisahan itu sungguh sangat menyakitkan. Aku yang seakan terkubur mati dalam kesedihan. Aku hidup namun seakan mati. Diajak bicara no connect, mulutku diam seribu bahasa, hanya air mata yang selalu bicara mewakili perasaan yang remuk redam, hancur dan yang tersisa hanya puing-puingnya saja.

Sejak saat itu, aku menjadi manusia yang tiada punya semangat lagi, seluruh hafalanku lenyap bak ditelan bumi. Prestasi sekolahku juga ‘down’. Yang awalnya selalu rangking pertama, pada saat itu, pada smester ke dua, rangkingku menjadi 8. Nilai mapel matematika yang selalu mendapatkan nilai 9, namun saat itu nilai MTKku mendapatkan 1,6. Aku nyaris tenggelam dalam samudera kesedihan seandainya tidak ada orang-orang terdekat disisiku.

Aku sangat beruntung karena pada saat itu bunyaiku tidak memarahiku justru beliau selalu memberikanku obat spiritual untuk membangkikan semangatku yang telah hilang. Lambat laun, dengan beriringnya waktu, aku mulai tersadar bahwa hidup ini tidaklah abadi. Semua jiwa pasti akan menemui ajalnya, entah kapan, entah dimana, hanya Allah yang Tahu. Allah Knows the Thruth.

Fya yang sempat layu kini hidup lagi dengan frame baru, yaitu hidup tanpa cinta sang kekasih. My first love never die in my heart. Dan sejak saat itu aku menutup hati untuk cinta manapun karena bagiku, cinta pertama adalah cinta yang sebenarnya. Itu pikirku saat itu.

Aku kembali melakukan aktifitas mulai dari membuat ziyadah, mudarosah, muthola’ah dan belajar pelajaran sekolah. Alhamdulillah semuanya lancar hingga Al-Qur’anku khatam. Kini saatnya melanjutkan target ke dua yaitu menghafalkan Al-Qur’an beserta terjemahannya. Waktu itu aku duduk dibangku kelas menengah. Tentu saja jadwal aktifitasku bertambah padat.

Kata guru psikologku : Hidup tanpa masalah ibarat gelas yang kosong. Itulah sedikit gambaran yang ku alami pada babak baruku. Baru sampai juz 4, cinta kembali menggodaku. Berawal bertemu diacara IPNU-IPPNU, aku kembali dipertemukan sesosok laki-laki yang sangat ideal bagiku. Tapi aku sudah berkomitmen bahwa aku tak mau lagi yang namanya jatuh cinta. My love only for him. Titik tak pakai tanda koma. Hingga aku khatam cinta selalu datang silih berganti bahkan pada waktu aku tabarrukan, cinta yang menggiurkan datang mencoba meruntuhkan imanku namun aku orangnya tidak mau muna, sekali konsisten dalam komitmen, itulah yang harus ku jalani. Sampai pada akhirnya aku menemukan arjunaku yang sebenarnya dari negeri Kairo. Arjuna yang aku temukan didunia maya… 🙂
☆☆☆
Sahabat…
Itulah lika liku perjalananku dalam mewujudkan asa. Putih abu-abu warna hafalanku yang tidak luput dari hitamnya kemelut cinta. Jalan berliku ku tempuh. Jalan terjal ku lewati.

Tidak ada yang menyalahkan akan adanya orang yang jatuh cinta karena cinta mencintai adalah fitrah kita sebagai makhluknya Allah. Yang salah adalah cinta yang melalaikan. Namun sebisa mungkin jangan ‘pacaran’ karena pacaran dalam kaca mata islam hukumnya sudah jelas, HARAM muthlaq.

Yang patah hati, segeralah ‘move on’, tak ada gunanya berlara hati. Yang masih punya penyakit Om Kaslan (malas), lekaslah ‘strong again’dan yang masih terpuruk dalam problem kehidupan, ayolah menata hati lagi untuk menyongsong asa. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya dan ada hikmah dibalik semua kejadian. Gunakan 5perkara sebaik mungkin sebelum datang 5perkara. Karena kesempatan datang hanya 1kali.

Yang masih menjajaki hafalannya, seriuslah dalam menghafalkan sebelum kalian menikah. Jangan banyak berleha-leha, jangan banyak facebookan karena selain cinta, hal yang berbahaya untuk anak pelajar adalah facebook. Berhati-hatilah dalam bermedsos, jangan sampai lupa waktu, lupa diri dan lupa kewajiban.

Dan, sengaja saya memposting cerita diatas hanya untuk berbagi cerita dimasa menghafalkan dan tentu saja, sebelum saya memposting, saya idzin dulu ke nin Nisa Al Farisha. Insya Allah pada lain kesempatan, jika nyawa masih didalam jasad ini, saya akan mempostingkan kisah cobaan sakit ketika dipesantren. Untuk saat ini, saya pribadi mohon do’a restu kepada seluruh admin dan member untuk saya dan suami yang sedang merampungkan buku ke dua yang berjudul “TABIR RAHASIA SYAHADATAIN”. Akhir kata, Ambil yang positif, buang yang negatif.

Tak ada gading yang tak retak. Uluran maaf senantiasa saya nanti jika dari postingan tersebut terdapat cerita yang tak nyaman dihati. See you a next story.

Salam dari Jagad Kulon,
( 10-Agustus-1991 )

sumber : https://www.facebook.com/groups/709798949038747/permalink/1601665049852128/?pnref=story

Leave a Reply