Horeee, Pacarku Hafidz Qur’an

Sahabat PITQ semua yang saya hormati dan mulyakan,
Tema diatas barangkali janggal bagi beberapa kalangan, tetapi tidak sedikit pula yang merasa bangga dengan ungkapan diatas.

Ya, …. Pada hari ini banyak orang yang melihat fenomena pacaran sebagai fenomena yang lumrah dan wajar. Disamping karena faktor lingkungan yang memang sudah jahiliyah, ditambah lagi dengan mutu pendidikan moral yang sedemikian parah.
Di lingkungan kafir seperti Amerika perilaku cara berpakaian yang serba seronok dan mengundang fitnah dan adegan panas ala bintang hollywood adahal hal yang biasa dan tidak dianggap sebagai sebuah pelanggaran.

Tetapi sayangnya budaya binatang yang tidak tahu malu ini cepat menular ke seantero jagad, tidak terkecuali Indonesia ini. Baik melalui media internet yang bisa diakses setiap saat, maupun media televisi dengan berbagai acara dan iklannya, ataupun melalui para turis mancanegara yang berlenggang leluasa di bawah payung Undang-Undang negara karena dia memegang Pasport dan Visa sebagai jaminan atas keamanannya.

Di dalam Islam, budaya pacaran adalah sebuah pelanggaran syariat yang masuk dalam katagori dosa besar, apalagi jika sampai berbuhungan badan. Karena pacaran sejatinya adalah “Perzinaan”. Ya …. Sebuah perzinaan dengan berbagai bentuknya.

Rasulullah Saw sendiri menyebutkan dalam sebuah hadits bahwa zinanya mata adalah dengan melihat, zinanya telinganya adalah dengan mendengar, zinanya mulut adalah dengan berbicara, zinanya tangan adalah dengan menyentuh atau memegang, sedangkan kemaluan adalah puncak dari semua perzinaan tersebut.

Rasulullah Saw sendiri menyebutkan dalam sebuah hadits bahwa zinanya mata adalah dengan melihat, zinanya telinganya adalah dengan mendengar, zinanya mulut adalah dengan berbicara, zinanya tangan adalah dengan menyentuh atau memegang, sedangkan kemaluan adalah puncak dari semua perzinaan tersebut.
Maka di dalam Islam, hukum pacaran dan perzinaan adalah HARAM …..

Alloh Ta’ala berfirman : “Dan Janganlah kamu mendekati zina, karena zina adalah perbuatan keji dan jalan pelampiasan nafsu yang buruk” (Al Isro : 32 ).

Imam Syafi’I menjelaskan tentang proses terjerumusnya seseorang kepada perzinaan dengan mengatakan : awalnya adalah pandangan, lalu sapaan dan obrolan, kemudian janjian dan setelah itu adalah pertemuan. Setan begitu lihai dan halus memasang perangkap untuk menjatuhkan manusia sehingga meskipun pelan tapi pasti secara bertahap manusia akan di giring ke lembah dosa.
Begitu cerdiknya setan menghiasi perbuatan dosa tersebut hingga dosa tersebut nampak indah dan mempesona di mata manusia. Jadi, tidak heran jika ada yang merasa bangga memiliki pacar seorang hafidz Qur’an.

Ya … ungkapan  “pacarku hafidz qur’an” …. Ini hanya salah satu ungkapan yang mewakili ungkapan-ungkapan lain yang senada, seperti : “Pacarku seorang Ustadz ….” Atau “Pacarku seorang Mujahid” atau “Aku kalau pacaran pake kerudung kok ….” dan lain sebagainya.
Apa istimewanya memiliki pacar Hafidz Quran …??? Atau Seorang Ustadz ?? … Jika dia adalah seorang hafidz Quran, maka sungguh tidak layak dan tidak pantas dia berpacaran, apalagi seorang Ustadz atau guru.
Jika seorang ustadz atau hafidz quran berpacaran berarti dia telah menginjak-injak apa yang telah dihapalnya, mencampakkan ilmunya, mengkhianati umat, dan merusak citra Islam.

Jika mereka adalah orang-orang yang komitmen dan jujur dengan ilmu yang dimilikinya, tentunya dia akan memilih untuk segera menikah dari pada pacaran. Karena nikah adalah jalan halal yang disyareatkan oleh Islam. Istilah pacaran adalah Istilah yang digunakan musuh-musuh Islam untuk mengaburkan hakekat sebenarnya dari ungkapan tersebut, yaitu : Perzinaan.

Orang-orang kafir dan munafik sengaja membuat istilah-istilah baru untuk menutupi hakekat sebenarnya dari istilah tersebut. Maka, seorang Muslim harus jeli memandang permasalahan ini.

Karena fitnah ini bukan hanya merambah anak-anak atau remaja yang belajar di sekolah-sekolah sekuler, tetapi ternyata hal ini juga merambah di lembaga pendidikan Islam seperti pesantren ataupun yang lain. Ironis memang, tetapi inilah fenomena yang ada.

Setiap orang tua dan pendidik harus memperhatikan hal ini secara seksama. Semoga kita semua bisa selamat dari tipu daya setan …. Wallohu ‘alam bhisshowwab

[Kholid Saifulloh Al Battar/voa-islam.com]

Cerita Ngentot, Cerita seks anak pesantren

One Response

  1. zain zacky September 18, 2014

Leave a Reply